Jumat, 30 November 2012

Sakit Pelebur Dosa

Sakit adalah Anugrah

Orang yang baik/beruntung itu bukan orang yang tidak pernah kehilangan dan tidah pernah sakit,

Orang yang tidak pernah sakit,akan menimbulkan kesombongan diri,seperti Fir'aun yang tidak sakit selama 400 tahun,sehingga muncul kesombongannya mengaku ngaku Tuhan.

Orang yang baik itu ketika dia terkena musibah atau sakit,dia bersabar,ikhlas,dan ridlo atas ketetapan Allah,

Orang yang sakit oleh Allah dihilangkan 4 perkara :

1. Kekuatannya,dia akan lemas tak bertanaga dan tak berdaya seperti sewaktu sehat,
2. Nikmat Makannya,dicabut Rasa enak makan,walau memakan makanan paling nikmat sejagad ini,akan terasa hambar,dan tak enak
3. Aura wajahnya,dihilangkan cahaya wajahnya sehingga lesu,kusam pucat,tak berseri seri,
4. Dosanya,karena dia sabar,ikhlas dan ridlo,dihilangkan dosanya,

Dan ketika orang sakit ini sembuh maka dikembalikanlah oleh Allah kepadanya :
1. Kekuatannya,dipulihkan tenaga dan kekuatan seperti sedia kala.
2. Nikmat Makan,dikembalikan Rasa enak makannya,
3. Aura wajahnya,dikembalikan cahaya wajahnya,akan kembali berseri seri,
4. Dan ketika Dosanya akan dikembalikan di bela oleh para malaikat,
Ya Allah Apakah dosanya akan engkau kembalikan pada orang sakit ini,
sedangkan dia Ikhlas,Sabar,dan ridlo atas qodlo' takdirMU, hati dan mulutnya berucap Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun,
Maka oleh Allah diperintahkan lah pada Malaikat untuk membuang dosa orang sakit tersebut jauh jauh kelautan luas.
Sehingga dosa tadi tidak dikembalikan lagi,
Semoga kita yang sedang kena musibah/sakit,diberi keSabaran keIkhlasan,dan Ridlo atas Qodlo' Takdir dari Allah,dan mendapatkan balasan yang lebih menyenangkan,

Amin.

Sabtu, 24 November 2012

JATI DIRI MUSLIM

JAGA harga dirimu(muru'ah)
dimana posisimu dimata
Masyarakat dan Allah,,walaupun
berat utamakanlah yg dimata
Allah,

Demikian pesan KH. Ahmad Arwan
saat mengajar dikelas,
beliua bercerita suatu saat
beliau mengantar istrinya
kepasar karena lupa membawa
peci,dia bingung mau turun dan
masuk kepasar tanpa peci,demi
menyenangkan istri beliau ikut masuk pasar dengan masìh
menggunakan Helm,walau banyak
mata memandang aneh,jalan2
dipasar pake Helm,padahal bukan kawasan berhelm,Beliau tetap
tenang,demi memilih malu karena Allah,bukan karena yang memandang,

pembuatan l KTP Secara
elektronik saat photo rame rame kemarin banyak yang lupa pake peci,atau emang sengaja
lepas PeCI,
walau keliatan sepele
itu kan yg menganggap Sepele, tapi ya mesti kita mulai dari yang sepele,
begitu beratnya menjaga harga
diri,
bagaima dngan KAMOOOEEeeuuH

Teluk Awur Jepara

Teluk awur,
ini adalah kali kedua aku keteluk awur jepara,namun kali ini ada yang istimewa,kalo dulu tahun 2010 25 desember aku bersama temen temen ijo lumut(ikatan jomblo lucu dan imut)karena dulu aku masih jomblo,dan dengan bersepeda ke teluk Awur.

Tapi kali ini,1 Muharrom 1434 / 15 Nopember 2012,aku bersama dengan anak istriku,anakku yang baru berusia 9 bulan aku ajak berkecek ria dipantai yang tenang dari ombak,tidak seperti dulu waktu bersama temen temen ijo lumut teluk awur ada gelombang ombak,

Mungkin ada sedikit perubahan lain tentang teluk awur ini,yang dulu agak sepi tapi sekarang rame,mungkin karena kebetulan pada waktu 1 Muharrom ini ada pawai anak anak TPQ QIRO'ATI YANBU'A sekab Jepara mungkin,karena setelah pawai anak anak diajak kepantai teluk awur ini,
Sekarang diteluk awur juga disediakan ban ban karet untuk bermain dipantai,Dan juga disini sudah ada tempat bilas dan salin untuk yang selesai mandi atau berenang/maen maen dipinggir pantai,dan juga warung warung jajan juga banyak berderet berjajar.

Ada cerita lucu saat aku,istri dan anakku tiba diteluk awur,temen temen dari ijo lumut yang bersepeda dari kudus mulai habis subuh,(dan ada yg sedang berpuasa,ikut nyeped sanpai ke teluk Awur)telah tiba satu jam terlebih dahulu,dan kuliat mereka udah main air ditepi pantai,mengunakan sampan jaring,dan 2 dari mereka menyewa ban,tinggallah 2 teman yang main disampan jaring,aku istriku sambil memondong anaku menghampiri dan bermain dengan mereka,tak berapa lama setelah photo photo,ada ibu ibu teriak ditepi pantai,ternyata dia sedang memarahi kami dan melarang rakit jaringnya ditumpangi oleh kami,kami pun akhirnya pindah kedekat perahu dan berphoto photo disana.

Demikianlah liburan kami kepantai Teluk Awur pada 15 Nopember 2012.

SYUKUR

Syukur kepada Allah yg telah
memberikan kita kesempatan
untuk menikmati indahnya
matahari terbit dipagi
hari,setelah semalaman kita
dimatikan sementara(tidur ) karena orang tidur itu ibarat
mati.

Syukur kepada Allah karena kita
bisa menikmati nikmatnya
sarapan.
Karena basa menikmati nikmatnya sarapan berarti kita
dalam keadaan sehat.orang yang
sakit dihilangkan rasa nikmatnya
menikmati makanan.
Itu semua adalah amanah allah
kepada kita,masih diberi kehidupan dan kesehatan,untuk
bagaimana kita basa
menggunakannya sebaik baiknya.

Bersyukur atas nikmatNYA
adalah sarana untuk
melanggengkan nikmat tersebut dan mengunakan nikmat
tersebut untuk mendekat
padaNYA

ibarat seorang karyawan yang diberikan kendaran konsenan adalah agar ia lebih giat dalam bekerja,dan lebih cepat sampai tempat kerja,

begitu pun manusia,diberi kesehatan,rizki,harta,ilmu,dan kelebihan2 lainnya,adalah agar ia dapat lebih giat ibadah,dan lebih cepat mendekat kepada Allah sang pemberi Rizki,

sebaliknya,bagaiman jika karyawan tadi yg diberi kendaran,malah digunakan semaunya,alias tidak digunakan untuk kerjanya, tentu bosnya akan marah dan kendaraan akan ditarik,
begitupun kesehatan dan kenikmatan manusia,akan diminta tanggung jawabnya.

Hati Hati saat melangsungkan Akad Nikah

Begitu Syakral dan Agung nya
Acara AKAD NIKAH,sampai ada
Ulama' ibnu Aroby berpendapat
tidak Sah nya Akad Nikah
karena adanya Alat2 Malahi,atau
sebelumnya Akad di iringi dengan Alat Malahi,,

Tidak sah berarti masih dianggap
Zina bila suami istri tadi
berkumpul,,nger ineee Seperti Disampaikan KH Ahmad
Arwan,saat Mengajar Kitab Ad
Dasuqi ala Ummul Barohin.

Karena itu untuk Hati Hati
sekarang banyak yang
Melangsungkan AKAD NIKAH di
Masjid,,,bagus juga,,




bagaimana dngan Kamoueeh???

TAWASSUL


Islamic Motivation · 1.762.348 menyukai ini
22 Mei pukul 9:10 · 
  • Hakekat Istighatsah dan Tawassul

    Para ulama seperti al-Imam al-Hafidz Taqiyyuddin as-Subki menegaskan bahwa tawassul, istisyfa’, istighatsah, isti’anah, tajawwuh dan tawajjuh, memiliki makna dan hakekat yang sama. Mereka mendefinisikan tawassul (dan istilah-istilah lain yang sama) dengan definisi sebagai berikut: “Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan (ikram) keduanya”. (Al-Hafidz al-’Abdari, ash-Syarh al-Qawim halaman 378).

    Sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa tawassul adalah memohon kepada seorang Nabi atau Wali untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya dengan keyakinan bahwa Nabi atau Wali itulah yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki. Persepsi yang keliru tentang tawassul ini kemudian membuat mereka menuduh orang yang bertawassul kafir dan musyrik. Padahal hakekat tawassul di kalangan para pelakunya adalah memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan keduanya.

    Ide dasar dari tawassul ini adalah sebagai berikut: Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan bahwa biasanya urusan-urusan di dunia ini terjadi berdasarkan hukum kausalitas; sebab akibat. Sebagai contoh, Allah subhanahu wata’ala sesungguhnya Maha Kuasa untuk memberikan pahala kepada manusia tanpa beramal sekalipun, namun kenyataannya tidak demikian. Allah subhanahu wata’ala memerintahkan manusia untuk beramal dan mencari hal-hal yang mendekatkan diri kepadaNya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Baqarah ayat 45).

    Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman: “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya (Allah).” (QS. al-Maidah ayat 35). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Artinya, carilah sebab-sebab tersebut, kerjakanlah sebab-sebab itu, maka Allah subhanahu wata’ala akan mewujudkan akibatnya. Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan tawassul dengan para Nabi dan Wali sebagai salah satu sebab dipenuhinya permohonan hamba. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa untuk mewujudkan akibat tanpa sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu, kita diperkenankan bertawassul dengan para Nabi dan Wali dengan harapan agar permohonan kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

    Jadi, tawassul adalah sebab yang dilegitimasi oleh syara’ sebagai sarana dikabulkannya permohonan seorang hamba. Tawassul dengan para Nabi dan Wali diperbolehkan baik di saat mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal. Karena seorang mukmin yang bertawassul, tetap berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan manfaat dan mendatangkan bahaya secara hakiki kecuali Allah subhanahu wata’ala. Para Nabi dan para Wali tidak lain hanyalah sebab dikabulkannya permohonan hamba karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka. Ketika seorang Nabi atau Wali masih hidup, Allah subhanahu wata’ala yang mengabulkan permohonan hamba. Demikian pula setelah mereka meninggal, Allah subhanahu wata’ala juga yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang bertawassul dengan mereka, bukan Nabi atau Wali itu sendiri. Sebagaimana orang yang sakit pergi ke dokter dan meminum obat agar diberikan kesembuhan oleh Allah subhanahu wata’ala, meskipun keyakinannya pencipta kesembuhan adalah Allah subhanahu wata’ala, sedangkan obat hanyalah sebab kesembuhan.

    Jika obat adalah contoh sabab ‘âdi (sebab-sebab alamiah), maka tawassul adalah sabab syar’i (sebab-sebab yang diperkenankan syara’).

    Syaikh Majdi Ghassan Ma’ruf al-Husaini, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari Lebanon bercerita:

    “Suatu ketika seorang Wahhabi dengan beraninya berkata kepada saya: “Mengapa kalian selalu beristighatsah dengan mengucapkan “Ya Muhammad”. Ucapkan saja “Ya Allah”, tanpa perantara!”

    Saya bertanya, “Kalau Anda terserang sakit kepala, apa yang Anda lakukan?”

    Ia menjawab: “Saya minum dua tablet obat sakit kepala.”

    Saya berkata: “Mengapa Anda melakukan itu? Bukankah Allah itu Maha Penyembuh? Mengapa Anda tidak langsung saja berdoa kepada Allah, “Ya Allah, ya Syafi isyfini (Ya Allah, Dzat Yang Maha Penyembuh, sembuhkanlah aku)”. Mengapa Anda membuat perantara dan sebab musabab untuk kesembuhan antara anda dengan Allah? Kalau Anda minum dua tablet obat tersebut sebagai perantara kesembuhan Anda, maka kami Ahlussunnah wal Jama’ah menjadikan Muhammad Saw. sebagai perantara kami, dan beliaulah perantara yang paling agung.”
    Akhirnya, Wahhabi tersebut tidak dapat menjawab.

    Debat Publik di Melbourne Australia
    Abdurrahman Dimasyqiyat adalah salah satu tokoh Wahhabi kelahiran Lebanon. Nama lengkapnya Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyat. Karya-karyanya mulai populer di kalangan Wahhabi Indonesia. Bahkan banyak pula tulisannya yang dipublikasikan melalui program software Maktabah Syamilah. Tetapi dari kalangan Wahhabi sendiri tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya Abdurrahman Dimasyqiyat. Masa lalunya penuh dengan skandal. Di setiap tempat yang pernah disinggahinya, ia selalu bikin ulah. Lidahnya selalu menghujat umat Islam, generasi salaf (terdahulu) maupun generasi khalaf (terkemudian). Kerjanya, merubah ajaran agama. Mencela para kekasih Allah subhanahu wata’ala. Menyerang orang-orang saleh. Kebiasaannya, mencela orang-orang yang baik. Ia lupa bahwa Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam hadits qudsi: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku deklarasikan perang terhadapnya.”

    Akibat ulahnya, akhirnya orang-orang banyak tahu kebusukan masa lalunya. Petualangannya dengan wanita-wanita cantik dan kegemarannya mengikuti para biduanita menjadi obrolan dari mulut ke mulut. Banyak pula yang membicarakan kisah-kisah kelamnya ketika di Universitas al-Azhar Cabang Lebanon dulu, dalam pemeriksaan yang suaranya direkaman-rekamannya masih ada sampai sekarang, dan saksi-saksinya masih hidup, dimana dalam rekaman itu ia mengakui telah melakukan perbuatan asusila, yaitu melakukan homo sex, yang dituduhkan kepadanya. Akibatnya, ia pun dikeluarkan dari al-Azhar Lebanon pada tahun 1972. Kasus itu, diakuinya sendiri.

    Abdurrahman Dimasyqiyat tidak menepis kejadian itu. Ia tidak menutup-nutupi aib dirinya. Bahkan tanpa merasa malu ia berterus-terang telah melakukannya. Seakan-akan ia bangga dengan perbuatannya. Dengan enteng ia berkata, “Pada waktu itu aku masih belum baligh, catatan amal masih belum berlaku bagiku.”

    Tentu saja pengakuan seperti ini tidak aneh dari seseorang yang telah memutus hubungan dengan kerabatnya. Menyakiti kedua orang tuanya. Selalu gagal mencari pekerjaan yang mendatangkan hasil yang halal di Lebanon dan di Perancis.

    Akhirnya, apa boleh dikata, Abdurrahman Dimasyqiyat menjulur-julurkan lidahnya di belakang uang logam dan dolar sebagai penulis bayaran kaum Wahhabi. Ia memulung sisa-sisa makanan di bawah meja orang-orang gendut berperut besar dan berhati keras sekeras batu. Yaitu kaum Musyabbihah (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya) dan kaum anti tawassul.

    Di antara mukjizat Rasulullah Saw. adalah sabda beliau yang memperingatkan umatnya agar berhati-hati dengan kaum Wahhabi sebelum kemunculan mereka. Nabi Saw. Bersabda: “Kepala kekafiran muncul di arah timur.” Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. menunjuk ke arah timur, daerah Najd, dan bersabda: “Fitnah akan muncul dari sana, fitnah akan muncul dari sana, dan diucapkannya sampai tiga kali”. Kedua hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari.

    Akhirnya semua orang tahu siapa sebenarnya Abdurrahman Dimasyqiyat. Identitasnya terungkap di Swedia. Ia melarikan diri dari perdebatan setelah menyetujui kesepakatan pada waktu yang dijanjikan. Kemudian ia mengira bahwa pengikut kebenaran melupakannya begitu saja ketika ia di Australia. Ternyata Abdurrahman Dimasyqiyat menyetujui debat publik bersama Syaikh Salim Alwan al-Hasani. Namun kemudian Dimasyqiyat takut, ragu-ragu dan berupaya menghindar. Sementara pengikutnya melakukan teror dan ancaman. Akan tetapi takdir Allah subhanahu wata’ala pasti terjadi. Akhirnya perdebatan terjadi. Kebenaran tampak dan kebatilan sirna. Sesungguhnya kebatilan pasti sirna.

    Abdurrahman Dimasyqiyat telah berkali-kali diminta melalui radio dan surat kabar, agar siap berdebat. Namun ia selalu melarikan diri. Akhirnya ia pun terpaksa datang karena takut malu. Ia datang ke Aula Universitas Melbourne pada tanggal 9 November 1994. Di Aula itu telah disiapkan meja untuk Syaikh Salim Alwan dan Syaikh Abdurrahman al-Harari. Di depannya ada meja yang disiapkan untuk Abdurrahman Dimasyqiyat dan dua orang temannya. Di tengah meja itu ada mimbar untuk moderator.
    Yang menarik perhatian, pada waktu itu Abdurrahman Dimasyqiyat membawa komputer yang sering digunakannya untuk mengeluarkan dalil-dalilnya yang lemah. Sepertinya ia memang tidak hapal teks dan tidak menguasai banyak persoalan. Kemampuannya hanya mengulang-ulang pernyataan orang yang menjadi sutradara di belakangnya, yaitu kaum Wahhabi.

    Perdebatan dimulai. Syaikh Salim melontarkan pertanyaan kepada Abdurrahman Dimasyqiyat: “Kalian kaum Wahhabi menghukumi bahwa memanggil orang yang tidak ada di depannya atau memanggil orang mati (nida’ al-ghaib aw al-mayyit), seperti berkata “Ya Muhammad, atau ya Rasulallah (wahai Muhammad atau wahai Rasulullah)”, itu syirik akbar (besar) sebagaimana ditetapkan oleh Ibn Abdil Wahhab an-Najdi dalam kitab al-Ushul ats-Tsalatsah. Sekarang, ini al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad, bahwa Abdullah bin Umar pada suatu hari kakinya mengalami mati rasa. Lalu ada orang berkata kepada beliau, “Sebutkan orang yang paling Anda cintai.” Lalu Ibn Umar berkata, “Ya Muhammad (Wahai Muhammad)”. Maka seketika itu kakinya sembuh. Apakah kalian kaum Wahhabi akan mencabut pendapat kalian. Dan ini yang kami kehendaki. Atau kalian akan memutuskan bahwa Abdullah bin Umar, al-Imam al-Bukhari, para perawi al-Bukhari, dan bahkan Ibn Taimiyah yang kalian sebut Syaikhul Islam, dan al-Albani pemimpin kalian, mereka semuanya kafir. Coba renungkan inkonsistensi Wahhabi ini. Pendapat mereka dapat mengkafirkan pemimpin-pemimpin mereka sendiri, yaitu Ibn Taimiyah dan al-Albani, bahkan mengkafirkan seluruh umat Islam, antara lain sahabat Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat lainnya.”

    Mendengar pertanyaan Syaikh Salim, mulailah serangkaian kebohongan Abdurrahman Dimasyqiyat. Setelah Syaikh Salim mengajukan pertanyaan tersebut, Dimasyqiyat kebingungan. Lalu ia berkata: “Lafal “Ya Muhammad”, hanya terdapat dalam naskah cetakan kitab al-Adab al-Mufrad yang ditahqiq Ustadz Kamal al-Hut. Dalam naskah-naskah lain, yang ada hanya lafal “Muhammad”, tanpa “Ya” untuk memanggil.”

    Mendengar pernyataan Dimasyqiyat, Syaikh Salim segera mengeluarkan beberapa naskah al-Adab al-Mufrad yang dicetak oleh percetakan-percetakan lain. Ternyata, semuanya sepakat memakai redaksi “Ya Muhammad”. Sehingga hal tersebut membuktikan kebohongan Dimasyqiyat. Kemudian, Dimasyqiyat semakin terkejut, ketika Syaikh Salim memperlihatkan naskah kitab al-Kalim ath-Thayyib karangan Ahmad bin Taimiyah al-Harrani, panutan kaum Wahhabi yang mereka sebut Syaikhul Islam. Dimana dalam kitab tersebut Ibn Taimiyah menyebutkan hadits Ibn Umar di bawah judul, “Bab yang diucapkan seseorang ketika kakinya mati rasa”. Naskah ini dicetak oleh kaum Wahhabi dan dikoreksi oleh Nashiruddin al-Albani, pemimpin mereka yang kontradiktif, yang menganggap perbuatan Ibn Umar itu syirik dan menentang tauhid.

    Dimasyqiyat telah berusaha mengingkari lafal “Ya” yang terdapat dalam hadits Ibn Umar dengan redaksi “Ya Muhammad”. Dimasyqiyat berkata, bahwa ia telah mencari lafal “Ya”, ternyata tidak menemukannya.

    Akhirnya Syaikh Salim berkata: “Al-Albani, pemimpin kalian yang kontradiktif, berkata dalam al-Kalim ath-Thayyib halaman 120 dalam mengomentari hadits “Ya Muhammad” yang disebutkan dan dianjurkan oleh Ibn Taimiyah untuk diamalkan, sebagaimana terbaca dari judul kitabnya al-Kalim ath-Thayyib (kalimat-kalimat yang baik). Al-Albani berkata: “Kami memilih menetapkan “Ya”, karena sesuai dengan sebagian manuskrip yang kami temukan.”

    Anda telah gagal wahai Dimasyqiyat. Kami menuntut Anda berdasarkan pimpinan-pimpinan Anda yang kontradiktif, dimana al-Albani menemukan manuskrip yang di dalamnya terdapat lafal “Ya Muhammad”, lalu dia anggap menentang tauhid dan termasuk perbuatan syirik menurut asumsinya. Coba Anda lihat (halaman 16 kitab al-Kalim ath-Thayyib), yang dicetak di percetakan asy-Syawisy al-Wahhabi dengan nama al-Maktab al-Islami, ta’liq (komentar) Nashiruddin al-Albani, pemimpin Wahhabi yang kontradiktif. Pernyataan al-Albani menjadi dalil yang menggugat Anda dan dia sendiri.

    Kemudian Syaikh Salim memperlihatkan naskah tersebut dan berkata kepada Abdurrahman Dimasyqiyat: “Aku ulangi pertanyaanku lagi kepada Anda, untuk mengingatkan bahwa Ibn Taimiyah menyebut atsar (hadits) ini dan menetapkannya. Ia tidak menjadikannya sebagai kesyirikan dan kekufuran. Bagaimana komentar Anda. Adakalanya Anda mengatakan bahwa Abdullah bin Umar, al-Bukhari sampai pimpinanmu, Ibn Taimiyah adalah orang-orang sesat dan kafir. Atau Anda mencabut pendapat Anda?”

    Mendengar pertanyaan tersebut, Dimasyqiyat menjadi gagap. Ia tidak menjawab pertanyaan. Tetapi beralih pada tema-tema lain. Lalu Syaikh Salim mengingatkan kepada hadirin, bahwa Dimasyqiyat menghindar dari jawaban. Kemudian Syaikh Salim mengulangi pertanyaannya yang tadi dengan pertanyaan tambahan. Yaitu riwayat hadits seorang tuna netra yang diajari oleh Rasulullah Saw. agar berdoa, “Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhanku dengan perantara dirimu.” Hal ini agar dilakukan bukan di hadapan Rasul Saw. Hadits ini shahih, riwayat ath-Thabarani dan lainnya. Ath-Thabarani dan lainnya juga menilainya shahih.

    Syaikh Salim berkata: “Apakah Anda berasumsi wahai Abdurrahman, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan kesyirikan, dan bahwa sahabat yang menjadi perawi hadits tersebut serta al-Imam ath-Thabarani mengajarkan kesyirikan? Jelas ini tidak mungkin.”

    Mendapat pertanyaan tersebut, tampak sekali Abdurrahman Dimasyqiyat lemah, dimana moderator mengingatkan bahwa ia berupaya beralih dari jawaban, dan kelemahannya jelas sekali.

    Di tengah dialog tersebut, Abdurrahman Dimasyqiyat mengakui bahwa ia telah menulis beberapa kitab untuk membantah al-Muhaddits al-Habasyi. Akan tetapi ia menerbitkannya dengan memakai nama orang lain, seakan-akan mereka yang menulisnya. Diantaranya kitab ar-Radd ‘ala Abdillah al-Habasyi, karya penulis palsu Abdullah asy-Syami.

    Anehnya, laki-laki ini menghendaki agar orang-orang percaya sama dia. Padahal ia mengakui sendiri telah berbuat bohong dan merekayasa dengan menulis buku yang dinisbatkan kepada nama-nama fiktif.

    Setelah itu, Syaikh Salim mengulangi menyebut hadits laki-laki tuna netra tersebut yang isinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadapkan diriku kepadaMu dengan perantara NabiMu, Muhammad, nabi pembawa rahmat”, serta menyebutkan para hafidz yang menilainya shahih. Ternyata Abdurrhman Dimasyqiyat juga mengakui bahwa hadits tersebut shahih.

    Lalu Syaikh Salim berkata: “Bagaimana kalian melarang manusia bertawassul dengan Rasul shallallahu alaihi wasallam bukan di hadapannya, padahal Rasul shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan laki-laki tuna netra tadi untuk bertawassul dengan beliau bukan di hadapannya? Apakah kalian akan mencabut keyakinan kalian. Atau kalian mengira bahwa kalian lebih pandai daripada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?”

    Mendengar pertanyaan tersebut, Wahhabi yang berperilaku aneh itu kebingungan. Ia kemudian berbicara banyak, tetapi tidak berkaitan dengan topic pertanyaan. Kemudian Syaikh Salim mengulangi pertanyaannya, serta mengingatkan hadirin bahwa Dimasyqiyat melarikan diri dari jawaban.

    Di sini, Abdurrahman Dimasyqiyat mengalihkan pembicaraan pada kebohongan lain. Ia bermaksud mencela Syaikh al-Harari, untuk menutupi kegagalannya. Ia berkata kepada Syaikh Salim: “Bagaimana Syaikh Abdullah mentahqiq kitab, yang di dalamnya terdapat redaksi bahwa sebagian auliya berkata kepada sesuatu “kun fayakuun”, tanpa menentang redaksi tersebut, serta mengingatkan rusaknya redaksi tersebut. Kitab tersebut telah dicetak dan saya punya kopiannya.”

    Mendengar pernyataan tersebut, moderator melakukan intervensi, dan meminta kopian itu agar isinya bisa diperlihatkan kepada hadirin. Ternyata semua yang hadir terkejut. Karena sampul kitab tersebut membuktikan kebohongan Dimasyqiyat. Kitab tersebut bukan ditahqiq oleh Syaikh Abdullah. Kitab tersebut justru ditahqiq dan dikoreksi oleh orang lain, bernama Husain Nadzim al-Hulwani, dan diberi kata pengantar oleh Syaikh Muhammad al-Hasyimi, bukan Syaikh al-Harari.

    Di sini, untuk menambah jelas kelemahan dan keanehan ahli bid’ah ini, Syaikh Salim berkata kepada Dimasyqiyat: “Kalian kaum Wahhabi mengkafirkan orang yang mengusap mimbar Nabi shallallahu alaihi wasallam atau makam Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kalian mengklaim mengikuti golongan Hanabilah, berpegang teguh dengan madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal. Padahal Ahmad bin Hanbal berkata, “Boleh mengusap mimbar Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan pusar yang ada di mimbar itu.” Bahkan Ibn Taimiyah berkata dalam kitab yang dinamakannya Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (halaman 367 terbitan Mathabi’ al-Majd at-Tijariyyah), “Ahmad dan lainnya memberikan keringanan dalam mengusap mimbar dan pusar mimbar itu yang merupakan tempat duduk dan tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Bagaimana pendapat kalian? Apakah kalian mengkafirkan al-Imam Ahmad, dimana kalian mengklaim mengikuti madzhabnya? Atau kalian mengkafirkan Ibn Taimiyah yang kalian sebut Syaikhul Islam? Bukankah ini sebuah inkonsistensi?”

    Mendengar pertanyaan ini, Dimasyqiyat yang ahli bid’ah itu tidak bisa menjawab. Ia tampak sekali kelemahannya. Lebih-lebih setelah Syaikh Salim menambah penjelasan dengan menyebut kutipan al-Mirdawi al-Hanbali bahwa Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, seorang imam mujtahid berkata: “Disunnatkan mencium hujrah (makam) Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Untuk mengalihkan persoalan, dan menjaga raut mukanya, yang tampak sangat pucat sekali, Dimasyqiyat bertanya kepada Syaikh Salim tentang firman Allah subhanahu wata’ala: “Allah Yang Maha Pengasih beristawa terhadap ‘Arsy.”

    Mendengar pertanyaan tersebut, Syaikh Salim menjelaskan persoalan tersebut dengan sejelas-jelasnya. Beliau memaparkan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah mengenai hal itu, bahwa istiwa’ Allah subhanahu wata’ala terhadap ‘Arsy bukan seperti istiwa’nya makhluk. Istiwa’ dalam ayat tersebut, bukan diartikan duduk dan bukan pula menetap. Akan tetapi istiwa’ tersebut adalah suatu makna yang layak bagi Allah subhanahu wata’ala, yang tidak menyerupai makna istiwa’ ketika disandarkan kepada makhluk, sebagaimana dalam perkataan al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Allah beristawa sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an, bukan seperti yang terlintas dalam benak manusia.” Meskipun Mu’tazilah sama dengan Ahlussunnah dalam menafsrikan istiwa’ dengan makna menguasai (al-qahr) dalam ayat ini, maka hal tersebut tidak bisa dibuat alasan mencela Ahlussunnah wal Jama’ah. Bukankah Mu’tazilah juga mengucapkan kalimat la ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Apakah Ahlussunnah harus meninggalkan kalimat tersebut karena Mu’tazilah mengucapkannya? Tentu saja tidak.

    Setelah perdebatan berjalan dua jam. Sementara penjelasan Syaikh Salim sangat bagus dan jitu. Sedangkan Dimasyqiyat, tidak mampu memberikan jawaban. Untuk menutupi rasa malu, Abdurrahman Dimasyqiyat diam. Kemudian para pengikut dan teman-teman Dimasyqiyat berdiri melakukan kerusuhan dan tindakan yang anarkis secara kolektif. Sehingga sebagian hadirin meminta mereka menghentikan tindakan brutal tersebut.

    Setelah mereka tidak mengindahkan pengumuman, akhirnya para hadirin menekan mereka dan polisi mengumumkan selesainya acara. Akhirnya mereka mulai meninggalkan Aula Universitas Melbourne. Pada waktu itu, sebagian kaum Wahhabi berhasil merusak kamera yang merekam acara dialog. Akan tetapi, untung kaset rekamannya masih utuh dan dapat dipublikasikan sampai sekarang.

    Bersama Syaikh Syu’aib al-Arnauth
    Dialog ini adalah pengalaman pribadi Syaikh Walid as-Sa’id, seorang ulama Ahlussunnah di Timur Tengah, dengan Syaikh Syu’aib al-Arnauth, seorang ulama Damaskus, yang terpengaruh ajaran Wahhabi.

    Syaikh Walid as-Sa’id bercerita. “Suatu hari saya mendatangi Syu’aib al-Arnauth di kantornya untuk berdiskusi tentang masalah tawassul dan istighatsah. Setelah saya bertemu dengannya, saya berbicara kepadanya tentang masalah tawassul dan saya ajukan hadits riwayat ath-Thabarani.

    Syu’aib al-Arnauth berkata: “Hadits ini membolehkan bertawassul dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika masa hidupnya.”

    Saya berkata: “Hadits ath-Thabarani membolehkan bertawassul dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika masa hidupnya dan sesudah meninggalnya. Demikian pula hadits Bilal bin al-Harits al-Muzani yang mendatangi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertawassul dengannya sesudah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam.”
    Ia berkata: “Hadits ini dha’if.”

    Aku berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari. Demikian pula Ibnu Katsir menilainya shahih.”
    Ia berkata: “Ibnu Hajar berkata, hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih kepada Malik ad-Dar. Sedangkan Malik ad-Dar ini seorang perawi yang majhul (tidak diketahui kualitasnya). Jadi Malik ad-Dar ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam periwayatan hadits.”

    Aku berkata: “Malik ad-Dar ini diangkat oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab sebagai Bendahara Baitul Mal kaum Muslimin. Berarti menurut Anda, Khalifah Umar mengangkat seorang laki-laki yang tidak jelas kualitasnya, apakah dia dipercaya atau tidak, sebagai Bendahara negara?”
    Mendengar sanggahan saya ini, ia terdiam dan tidak dapat menjawab. Akhirnya dia berbicara lagi kepada saya: “Secara pribadi saya berpendapat, dalam masalah tawassul ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jadi saya tidak menentang terhadap orang yang melakukannya. Adapun beristighatsah dengan selain Allah, hukumnya jelas haram. Seorang makhluk tidak boleh beristighatsah dengan sesama makhluknya.”

    Aku berkata: “Kalau Anda berpendapat bahwa istighatsah terhadap sesame makhluk dilarang, lalu bagaimana pendapat Anda tentang hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dari jalur Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Matahari akan mendekat pada hari Kiamat, sehingga keringat akan sampai pada separuh telinga. Maka ketika manusia dalam kondisi demikian, mereka beristighatsah (meminta pertolongan) dengan Nabi Adam.” (HR. al-Bukhari no. 1475).
    Syu’aib berkata: “Hadits ini berkaitan dengan istighatsah ketika para nabi itu masih hidup, dan memang dibolehkan beristighatsah dengan mereka. Adapun sesudah mereka meninggal, maka tidak boleh beristighatsah dengan mereka.”

    Aku berkata: “Kalau begitu, Anda berpendapat boleh beristighatsah dengan para nabi ketika mereka masih hidup?”
    Ia menjawab: “Ya.”

    Aku berkata: “Tolong jelaskan dalil ‘aqli atau dalil syar’i yang melarang beristighatsah dengan para nabi sesudah mereka meninggal dunia.”
    Ia berkata: “Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya yang sedang aku tahqiq dan belum diterbitkan. Hadits tersebut adalah begini, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak boleh beristighatsah denganku. Beristighatsah hanya kepada Allah.”

    Aku berkata: “Kalau bergitu pernyataan Anda paradoks. Anda tadi berkata ketika saya sampaikan hadits Ibnu Umar (riwayat al-Bukhari), bahwa beristighatsah dengan para Nabi ketika mereka masih hidup, itu boleh. Sekarang Anda menyampaikan hadits kepada saya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika masa hidupnya besabda, bahwasanya tidak boleh beristihgatsah denganku.”
    Ia berkata: “Maaf, hadits ini dha’if. Jadi tidak dapat dijadikan hujjah.”

    Ternyata hadits yang disampaikannya, ia ralat sendiri dan ia akui sebagai hadits dha’if. Kemudian ia berkata kepadaku: “Coba aku berikan contoh seorang imam di antara Imam Madzhab yang empat yang mendatangi suatu makam atau seorang Wali untuk bertabarruk atau beristighatsah dengannya.”
    Saya berkata: “Al-Khathib al-Baghdadi telah meriwayatkan dalam Tarikh Baghdad dengan sanad yang shahih, bahwa al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Saya senantiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Saya selalu mendatangi makamnya setiap hari dengan berziarah. Apabila saya memiliki hajat, saya shalat dua raka’at, lalu saya datangi makamnya, saya berdoa kepada Allah tentang hajatku di sisi makam itu, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.”
    Ia berkata dengan berteriak: “Riwayat ini tidak shahih. Dari mana Anda dapatkan riwayat ini?”

    Kebetulan kitab Tarikh Baghdad ada di belakang punggungnya. Saya berkata kepadanya: “Tolong ambilkan kitab itu.”
    Setelah kitab tersebut diserahkan kepada saya, saya bukakan riwayat tersebut dalam kitab itu dan saya perlihatkan kepadanya. Setelah ia melihat riwayat tersebut, ia merasa heran dan berkata kepada salah seorang pembantunya: “Tolong kualitas para perawi hadits ini dikaji.”

    Dari sikapnya ini, tampak sekali, kalau ia telah mendidik orang-orang di sekitarnya berani melakukan koreksi terhadap hadits. Padahal mereka tidak punya kapasitas untuk itu. Kemudian pembantu itu datang menghampiri. Setelah beberapa lama masuk ke dalam, pembantu itu pun kembali dan berkata kepadanya dengan suara agak pelan: “Semua perawi hadits ini tsiqah (dapat dipercaya).”

    Lalu saya berkata kepadanya: “Bagaimana hasil temuan Anda tentang semua perawi hadits ini?”
    Ia menjawab: “Semua perawinya dapat dipercaya kecuali seorang perawi yang belum saya temukan data biografinya. Dengan demikian hadits ini dha’if, karena ada seorang perawi yang tidak diketahui kualitasnya.”

    Saya berkata: “Bagaimana Anda menghukumi hadits ini dha’if, berdasarkan alasan Anda tidak menemukan data biografi seorang perawinya. Padahal dalam kaidah disebutkan, “Tidak menemukan data, tidak menjadi bukti bahwa data tersebut memang tidak ada.”
    Dia berkata: “Apa maksud kaidah ini?”

    Saya berkata: “Apabila Anda tidak menemukan data seorang perawi, itu bukan berarti perawi itu dinilai tidak diketahui kualitasnya dan dha’if.”
    Ia berkata: “Kalau Anda bisa menemukan data perawi ini, saya kasih nilai sepuluh.” Lalu ia berkata: “Saya sekarang sibuk, jadi tidak mungkin meneliti data perawi ini.”

    Lalu ia bertanya siapa namaku. Saya menjawab: “Namaku Walid as-Sa’id, murid Syaikh al-Harari.”
    Demikianlah pandangan kaum Wahhabi yang mengkafirkan orang yang bertawassul dengan nabi atau wali. Pendapat mereka, selain rapuh, tidak memiliki dasar dari al-Qur’an dan hadits, juga berimplikasi pada pengkafiran terhadap Rasulullah Saw., para sahabat, para ulama salaf dan seluruh umat Islam selain golongannya. Na’udzu billah min dzalik.

    Pandangan Wahhabi akan rapuh ketika dihadapkan dengan fakta, bahwa tawassul dengan Nabi yang sudah wafat telah diajarkan oleh Rasulullah Saw., para sahabat, generasi salaf, ahli hadits dan kaum Muslimin. Ihdina ash-shirath al-mustaqim.


    Sumber : ISLAMIC MOTIVASION

Minggu, 26 Agustus 2012

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA

UCAPAN DI HARI LEBARAN


Masih di swasana lebaran,hari pertama masuk kerja,tentu bertemu banyak teman kerja,yang beraneka ragam pribadi dan pengetahuan agamanya,atau bahkan yang beda agama,

Sudah menjadi kebiasaan,hari pertama kerja,dan pertama bertemu,biasanya saling bermaafan dan bersalaman,tentu kata2 dan ucapannya berbeda beda,diantaranya.

MINAL 'AIDINAL FAIZIN (من العائدين الفائزين‎)‎ Artinya dari orang2 yang kembali dan orang2 yang beruntung, tentunya perkataan ini kurang lengkap,
karena ungkapan itu kurang sempurna,seharusnya ada tambahan JA'ALANALLAHU MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN, Artinya smg Allah menjadikan kita termasuk orang2 yang kembali(fitri/suci stelah berpuasa romadlon)dan termasuk orang2 yang beruntung,

Yang lucu ucapan Minal 'aidin wal Faizin diucapkan oleh orang yang beda agama dngan kita,dan termasuk saya juga sering mendapat ucapan itu dari Mereka,
kalau menurut KH. SYA'RONI AHMADI, ucapan itu seharusnya ditambah ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADUR ROSULULLAH, JA'ALANALLAHU MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN.
Jadi seharusnya mereka bertasyahud dulu,baru mengucapkan JA'ALANALLAHU MINAL 'AIDIN,,
dan mungkin disinilah kita terlena,karena kita mendapat Ucapan dari orang yg beda agama saat kita lebaran,kemudian kita merasa berhutang,dan memberi ucapan kembali,saat mereka berhari Raya Natal atau yang lain,padal Mengucapkan selamat Natal hukumnya bagi Ummat islam Haram,dngan adanya pengecualian bagi seorang pemimpin semisal Presiden Atau Mentri Agama,

Karena mengucapkan Selamat Hari Raya Natal atau yang lain Berarti menganggap agama mereka benar,
Untuk itu kita tidak perlu merasa berhutang dngan ucapan Mereka saat memberi Ucapan Selamat Lebaran,
dan jawaban kita cukup dngan Mohon Maaf Lahir Batin,tidak usah kita doakan JA'ALANALLAHU MINAL A'IDIN,,Krena sebelum Mereka berikrar ASYHADU ALLA ILAAHA ILLAH,mereka tak akan menjadi orang yg kembali Fitri dan Beruntung,

Senin, 02 Juli 2012

PENGAJIAN ISRO' MI'ROJ DI MUSHOLLA AL AMIN


Setelah beberapa tahun tidak ada pengajian umum di Musholla Al Amin akhir nya terlaksana juga pengajian Umum di Musholla Al Amin,yang dilaksanakan pada hari Selasa Malam Rabu tanggal 26 Juni 2012,atau tanggal 6 Sya'ban 1433 H.
Pengajian yang memperingati Isro' mi'roj Junjungan kita Nabi Muhammad SAW ini sempat mundur pelaksanaannya,yang tadinya adalah meNYONSONG peristiwa Isro' Miroj dengan pelaksanaan tanggal 2 juni 2012 atau 11 Rojab 1433 H. Karena belum tanggal 27 Rojab diganti menjadi memPERINGATI ISRO' MI'ROJ karena pelaksanaanya menjadi tanggal 6 Sya'ban,
Pelaksanaan pengajian yang mundur ini adalah dikarenakan dukuh bogol sedang Berkabung dengan meninggalnya Bapak Kyai Mas'an selaku Guru kita dan juga Pengurus Musholla Al Amin,pengajian yang dijadwalkan malem Ahad tanggal 2 juni itu,menjadi mundur karena tepat kurang sehari yaitu malam sabtu Bapak Kyai Mas'an Meninggal Dunia,dalam perjalanan Menuju rumah Sakit YAKIS.
Karena itulah pengajian menjadi mundur pelaksanaannya, yang tadinya dijadwalkan KyaiNYA Bapak KH KUSTUR FAIZ karena sudah tidak ada jadwal kosong jadi diganti Bapak KH MASYHUD SIROJ.
Dalam Pidato prakata panitia Mas IKA WIBOWO setelah mengucapkan trimakasih atas bantuan pelaksanaan dan maaf atas kekurangan pelaksanan pengajian, menegaskan Pentingnya MENGAJI,


INI SANTRI SANTRI AL AMIN
Dalam kesempatan pengajian ini juga Santri santri dari Musholla Al amin memperlihatkan kebolehannya Dalam berSHOLAWAT dan REBANA,walaupun dalam belajar Rebana ini baru permulaan karena kurang 4bulan namun suduh Cukup menggetarkan Qalbu bagi para Pengunjung.
Pengajian ini ditutup dengan Mauidloh Hasanah dan Doa Oleh KH MASYHUD SHIROT,dalam Mauidlohnya KH MASYHUD SHIROT Menegaskan Pentingnya SHOLAT dan Madrasah,Perintah Nabi Untuk Memerintahkan anak Sholat dalam usia 7 tahun,artinya sebelum 7 tahun sudah diajarkan Sholat,dan Anak diajarkan sholat itu artinya diajari bersuci dan mengenal tempat suci yaitu menghadap Ka'bah dan menyembah Allah dzat yang Maha Suci,karena itu kurang baik jika anak anak kita diajari untuk mengenal tempat tempat yang tidak suci,seperti pasar,mall,swalayan,tempat tempat hiburan yang tidak ada kemanfaatannya untuk anak,
Dan perintah untuk memukul anak bila meninggal Sholat diusia 10 tahun,dengan pemukulan yang tidak membuat luka,dan bertujuan untuk mendidik.

PENTINGNYA BERMADZHAB

Muhaddis/Ahli hadist itu ada 3 tingkatan
1. Tingkat kanak kanak,ahli hadist yang hafal seratus ribu hadist,disebut Al Hafid contoh seperti imam ibnu Hajar Al Asqolani pengarang kitab Bulughul Marom
2. Tingkat menengah,ahli hadist yg hafal tiga ratus ribu,disebut Hujjatul islam contoh seperti Imam Ghozali
3. Tingkat tinggi,ahli hadist hafal enam ratus ribu hadist seperti Imam Muslim yg hafal enam ratus ribu,
Imam Muslim muridnya imam Bukhori yang hafal tujuh ratus ribu hadist,
Imam Bukhori muridnya Imam Ahmad bin Hambal yang Hafal satu juta hadist
dan lmam Ahmad Bin Hambal muridnya imam Syafi'i,keduanya ini termasuk MUJTAHID
Jadi imam Syafi' itu orang alim,diceritakan bahwa beliau itu berada dikanAdungan sudah mengarang kitab dan dikandungan ibunya selama 4 tahun,
dalam Usia 9 tahun hafal Al Qur'an,dan 14 tahun sudah hafal kitab Hadist MUWATTO' nya Imam MALIK,jadi tidak salah kalau kita itu berMADZHAB SYAFI'I,karena yang kita tiru itu bukan ULAMA sembarangan,
salah besar kalau ada orang yang mengatakan tidak perlu berMADZHAB,Karena belakangan muncul orang yang berpandangan begitu,mereka itu orang yang mendalami ilmu agama baru beberapa tahun,dan sudah merasa pintar dan cenderung melebihkan Akalnya.Kadang belajarnya tidak dengan ulama salafiyah,dan asal mulanya dari kecil dia kurang dalam belajar agama,sehingga waktu dewasa mau belajar agama tapi dia ingin yang sesuai Akalnya,
Dalam ilmu tauhid kita tidak diperbolehkan TAQLID (anut anutan)dalam arti kita harus bisa mengenal sifit sifat Allah beserta dalil Akli dan Naklinya
Sedang dalam ilmu fikih kita diharuskan untuk berMADZAH,karena kita tidak mampu untuk memahami Al Qur'an dan Hadist tanpa bantuan Ahli Qur'an Dan Hadist.
Dan Ahli Qur'an dan Hadist adalah Para Ulama' dan Kyai yang mumpuni penguasaan agama.

Rabu, 18 April 2012

lngat Al Qur'an

RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF ♥:: AL - QUR'AN KALAMULLAH ::♥ *~ Kepada yang MAMPU, hafallah.. *~ Kepada yang TIDAK MAMPU, bacalah.. *~ Kepada yang LEMAH, bergurulah.. ... JANGAN biarkan Al Quran memburuk di atas almari, jangan tinggalkan Al-Quran bersendirian.. sesungguhnya kitab mukjizat lagi SUCI nan MULIA itu tidak sepatutnya diperlakukan sedemikan rupa.... Jika buku ilmiah, majalah, novel boleh dibaca sehingga ke titik terakhir, jika di alam maya, boleh seharian mengadap berjam-jam lamanya.....jika surat khabar, kita belek lembarannya 5 kali sehari..... KENAPA tdk dengan Al-Quran? (Astaghfirullah’azim...., betapa lalai dan cuek dan malasnya diri ini :(( ) CARILAH MASA untuk membaca AL Quran..... ada HAMBA ALLAH selalu berkata : "Jika tidak bisa membaca 1 juz sehari, bacalah sehelai sehari....atau 1 muka surat sehari, atau membaca setakat mana terdaya yg mampu..." “Orang MAHIR dalam bidang Al- Quran maka ia bersama para Nabi dan syuhada....adapun orang yg MEMBACA DENGAN GAGAP (tidak mahir) namun hatinya TERTAMBAT kepadanya, maka ia memperolehi DUA PAHALA.” (Hadis riwayat Muslim) MOHONLAH KEKUATAN dari Allah untuk melawan NAFSU MALAS kita krna sesungguh tiada daya dan upaya, hanya kepada Allah TEMPAT PERTOLONGAN.... Ada satu Hadis Nabi saw yang mengatakan kepada sesiapa saja yang membaca Al-Quran, mempelajarinya dan mengamalkanya, maka akan dipakaikannya kepada KEDUA IBU AYAHNYA pada hari kiamat MAHKOTA DARI CAHAYA yg sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan kepada kedua orang tuanya DUA PERHIASAN yang nilai tidak tertanding oleh dunia.... MasyaAllah, terlalu indah..... rebutlah PELUANG yg ada untuk ibu dan ayah kita....♥♥ :: InsyaAllah, ISTIQAMAH dalam membaca AL-QURAN :: ~ Haslinda Alias ~

C I N T A

RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya, Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi. Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah, Aku pernah ......... Aku pernah tersenyum meski kuterluka ! karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku, Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja, Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan...... Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku. Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga. Semua orang pasti pernah merasakan cinta.. baik dari orang tua... sahabat.. kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya. Buat temenku yg sedang jatuh cinta.. selamat yah.. karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia. Buat temanku yg sedang terluka karena cinta... Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu. Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu ... jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia. Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah.. karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab.. Tuhan sedang mempersiapkan sgala terbaik bagimu

RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya, Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi. Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah, Aku pernah ......... Aku pernah tersenyum meski kuterluka ! karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku, Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja, Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan...... Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku. Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga. Semua orang pasti pernah merasakan cinta.. baik dari orang tua... sahabat.. kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya. Buat temenku yg sedang jatuh cinta.. selamat yah.. karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia. Buat temanku yg sedang terluka karena cinta... Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu. Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu ... jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia. Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah.. karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab.. Tuhan sedang mempersiapkan sgala terbaik bagimu

Selasa, 17 April 2012

RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF Siapa Yang Harus Aku Ta'ati Seorang gadis kecil baru saja pulang dari sekolah. Sesampainya dirumah, Sang Ibu melihatnya sedang bersedih. Dia pun bertanya kepada anakya tentang sebab kesedihannya. Gadis kecil itu pun menjawab: “Bu, tadi bu guru mengancamku akan dikeluarkan dari sekolah, karena pakaian panjang yang aku kenakan”. “Tetapi pakaian ini adalah pakaian yang dicintai Alloh, anakku!”. “Benar bu, tapi Ibu guru tidak suka”. “Baik nak, meskipun bu guru tidak suka, tetapi Alloh menyukainya”. Jadi, siapakah yang akan kamu ta’ati? Akankah kamu taat kepada Alloh yang telah menciptakanmu, membentuk parasmu dan memberi nikmat kepadamu? Atau kamu akan taat kepada makhluk yang tidak bisa mendatangkan manfa’at kepadamu?”. Alloh lah yang aku taati, bu ! Bagus nak. Kamu benar ! Keesokan harinya, sang anak tetap berangkat ke sekolah dengan mengenakan pakaian panjang dan ketika sang guru melihatnya, dia pun menghardik dengan kasar. Gadis tersebut tidak kuasa menghadapi hardikan sang guru, apalagi seisi kelas memandang kearahnya. Dan tangisan pun meledak. Sambil terisak, anak itu melontarkan kata-kata singkat namun memiliki makna yang besar : “Demi Alloh, aku tidak tahu siapa yang harus aku taati, Anda atau Dia?” “Dia siapa?” tanya sang guru. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Aku taati perintahmu, lalu aku mengenakan pakaian yang anda sukai dan bermaksiat kepada- Nya, ataukah aku akan mentaati- Nya dan mengabaikan perintah Anda? “Aku akan tetap mentaati Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, walau harus mengalami segala kepahitan, jawab sang gadis. Kata-kata itu keluar dari mulut mungil gadis tersebut. Kata-kata yang memperlihatkan loyalitas penuh kepada Alloh ta’ala. Dengan tegas gadis kecil itu menyatakan komitmen dan ketaatannya kepada perintah- perintah Alloh Yang Maha Kuasa. Apa guru tersebut membiarkannya? Sang guru meminta agar ibu anak tersebut dipanggil ke sekolah, apa yang kira-kira dia inginkan? Sang ibu pun datang. “Anak anda telah menasehatiku dengan nasehat yang paling berharga yang pernah aku dengar selama hidupku”, kata guru kepada sang ibu. Ya, guru tersebut telah menerima nasehat dari muridnya yang masih kecil. Guru yang telah belajar tarbiyah dan memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas. Seorang guru yang ilmunya tidak menghalangi untuk menerima nasehat dari seorang anak kecil yang seusia dengan anaknya. Selamat, bagi guru tersebut. Selamat pula bagi anak kecil yang ditelah ditempa dengan tarbiyah islam dan menggenggamnya dengan kuat. Dan selamat bagi sang ibu yang telah berhasil menanamkan rasa cinta kepada Alloh ta’ala dan Rasululloh kepada sang anak. Maka dari itu wahai para ibu muslimah Kalianlah yang menggenggam anak-anak kalian. Mereka ibarat adonan yang bisa dibentuk sesuai dengan kehendak kalian. Maka, segeralah untuk membentuk mereka sesuai dengan bentuk yang diridhoi Alloh dan Rasul-Nya. Ajari mereka sholat Ajari mereka untuk senantiasa taat kepada Alloh Ajari mereka tentang keteguhan dan kebenaran Ajarkan semua itu kepada mereka sebelum mereka memasuki usia dewasa Jika mereka tidak sempat mendapatkan tarbiyah ketika kecil, niscaya kalian akan sangat menyesal karena kalian akan kehilangan anak kalian di masa dewasa mereka. Gadis ini bukan hidup dimasa shahabat, maupun dimasa Tabi’in, tetapi gadis ini hidup di zaman yang penuh fitnah ini. Kisah ini membuktikan bahwa sebenarnya kita mampu untuk mencetak generasi seperti gadis ini. Seorang gadis yang bertaqwa akan berani untuk menampakkan kebenaran serta tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Saudari Mukminah, anakmu sekarang berada dihadapanmu, siramilah dia dengan air ketaqwaan dan keshalihan. Perbaikilah lingkungannya. Jauhkan ia dari berbagai virus dan obat-obat berbahaya. Inilah tantangan yang berada dihadapanmu. Silahkan koreksi, apa yang telah kamu lakukan dengan amanah yang Alloh titipkan padamu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda “Barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan mengabaikan kemurkaan Alloh, niscaya Alloh akan melimpahkan urusannya kepada manusia. Dan barang siapa yang membuat manusia marah demi mencari keridhoan Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkannya dari meminta bantuan manusia” (Al- Hadist). -rsk- dikutip dari Mawaqifu Dzat “Syaikh Umar Al- Asyqor”

Anak sholihah

Minggu, 12 Februari 2012

HUMAIDA ZAHRO HAFIYYA




umur 5 bulan dek Ayya mulai bisa merayap,atau ngangsut,karena dek aya belum bisa merangkak.

umur 4blan adik udah bisa tengkurap,dan umur 4lapan adik di beri makan bubur nasle cerelac,dan maunya yg rasa beras merah,

alhamdulillah..adik ayya

HUMAIDA ZAHRO HAFIYYA



















Alhamdulillah,puji syukur kepada Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan limpahan rahmat dan nikmat yang tak terhingga tanpa hitungan,
Dan diantara Nikmat itu adalah diberikannya kami amanah berupa anak pertama perempun pada :
Hari : Jumu'ah Pahing
Tanggal : 10 R Awal 1433 H,/03 Febuari 2012 M.


Pada hari kamis pagi sehabis sholat subuh,ibunya mulai mengeluarkan cairan Fleck dan merasa mules mules ringan,namun olehnya masih dibuat aktifitas,dengan alasan kalau dirumah sendirian akan Suntuk,hingga Magrib malam jumu'ah mules mules itu terasa lebih banyak dan sering,hingga kami membawanya kebidan,

Oleh bidan Hj. Masruroh Dersalam diperiksa dan baru Mbuka satu,dan dipersilahkan mau langsung mondok ditempat persalinan atau mau pulang dulu,namun istriku lebih memilih pulang dahulu,
Setelah mulas mulasnya lebih kerap kami kembali kebidan jam 11 malam,

Hingga sampe menjelang shubuh tepatnya jam 03.50 menit, lahirlah anak perempuan pertama kami dengan selamat dan sehat,dengan berat 2,5 kg,dan kami beri nama
HUMAIDA ZAHRO HÄFIÝÝÄ
"dek AYYA"

MemBACA SHOLAWAT adalah Amalan yang pasti diTERIMA


Semua amal ada kalanya diterima dan ada kalanya ditolak(tidak diterima),kecuali membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Karena membaca Sholawat pada Nabi pasti diterima karena penghormatan dan keistimewaan Nabi.

Para alim telah sepakat bahwa membaca Sholawat itu pasti diterima,amal ibadah itu ada kalanya diterima dan ada yang ditolak,lain dengan membaca sholawat pada Nabi.Itulah diantara keistimewaan membaca sholawat.

Allah membalas dan memberi pahala seseorang yang membaca sholawat satu kali,dengan dilipatkan sepuluh kali,dan ditempatkan disurga. Betapa pemurahnya Allah hingga membaca sekali dilipat gandakan menjadi sepuluh kali,karena itu dibulan maulud Nabi ini mari kita perbanyak membaca sholawat pada beliau.

Dan orang yang bakhil itu orang yang disebut Nama Nabi dia tidak mau membaca sholawat,dan orang seperti itu adalah orang yang lupa akan jalan menuju surga.